Hikayatku Tentang Farida Binti Boerhanoeddin

Cerita dari Lantai 3 No Comments »

Aku menulis namanya dalam hatiku
Dengan tinta kasih, dari pena bersepuh sayang
Pada lembaran cinta dengan penuh segala rasa
Farida Binti Boerhanoeddin

Almanak bertanggal tujuh mei
Ketika Nurbaidar mengeluarkannya dari rahim
Dan Lahirlah Farida yang jelita
Menandakan awal dari satu keluarga

Parasnya elok bukan rupawan
Sinar matanya indah bukan buatan
Adalah engkau wanita pujaan
Seperti bidadari yang melangkah turun dari awan

Adalah kakak dari empat adiknya
Adalah Kemudian menjadi Uwo dari sepupu-sepupunya
Adalah Farida kemudian dipuja

Dan Lama berselang…..
Farida Binti Boerhanoeddin tak lagi lajang
Dipersunting lelaki penuh kasih sayang

Adalah taklimat ketika
Farida Binti Boerhanoeddin menjadi ibu
Dari delapan anak yang penuh tingkah dan polah
Dalam darahnya yang mengalir berbagai daerah
Aceh, Jawa, Minang, dan Barus di utara sumatera
Turunlah Anak-anak yang berbagai rupa
Yang memanggilnya Ibunda
Yang meletakkan marwahnya diatas kepala
Yang mencintainya dengan berbagai cara
Yang memujanya, wahai perempuan yang luar biasa

Hingga nanti sampai waktuku,
Tak kan kulupa kisah Farida Binti Boerhanoeddin….
Perempuan yang harum namanya bagai cendana…
Yang elok parasnya, yang tatapan nya teduh dan menggelora
Yang keberaniannya melintasi Pulau Banyak, dengan perahu pukat di usianya yang sudah renta
Yang menghidupi delapan anak dengan kasih yang sama
Yang menjadi pejuang bagi perempuan lain yang teraniaya

Wahai Farida Binti Boerhanoeddin….
Padamu aku belajar apa maknanya cinta…..

07052009…..Luv u So Much, Bun…..

Mati pada Candu

Cerita dari Lantai 3 No Comments »

Tangan ini sudah berhenti dengan majas Hipergila…

juga sudah berhenti dengan kata-kata isyarat…

Aku sudah tak lagi kecanduan..

aku sudah berhenti…..

Karena sisi bagian itu…..Aku biarkan mati perlahan…

Dan aku berjanji pada siapapun

siapapun yang pernah ada di bagian itu…

Bagian itu akan mati dalam abadi…

Tidak akan pernah Hidup lagi…

Meski penuh rajahan bentuk, penuh torehan Kata…

ku pastikan..

Semua akan menghablur….berbaur jadi satu…..

Hilang…..

Ntah hapa-Hapa Lah si No iniii……..

Cerita dari Lantai 3 No Comments »

Mates….

Assalamualaikum…..

“….and few words about Letto, aku meminjamkan cd-cd itu hanya untuk memperdengarkan padamu sesuatu yang baru, tidak ada maksud lain kok. tidak ada yang menggeser posisi Iron Maiden, Deal ?”

……..

“….dan mengenai Letto. aku juga mendengarkan kok. Bisa jadi suatu saat aku memujanya, atau tidak, yang pasti aku mendengarkan “Sandaran Hati” dan aku merasa lagu itu cukup masuk akal. Aku suka nada sederhana, dan tentu saja, Iron Maiden juga menjalani proses yang sama kok :D”

Yaapp…..setiap orang yang pernah transit di Lantai 3 ini tentu akan mengetahui dengan jelas, bahwa speaker pada kompie di sudut ruang akan selalu memperdengarkan irama yang berisik atau nada-nada yang cukup jadul. Didominasi dengan nada-nada berat Trivium, Iron Maiden, Sepultura, bahkan hingga Cradle Of Filth….Tapi bisa jadi yang menggunakan komputer itu sedang karaokean dengan gaya menyanyikan lagu-lagunya Josh Groban, atau berlagak seperti Craig David, Ber “Dance Into The Light” bersama Phil Collins, berjoget dengan trio macan, menyeberang ke tetangga mendengarkan Iklim atau “Isabela”nya Amy Search atau bahkan hanya mengulang-ulang Boyz II Men dan Spring’s nya Vivaldi…..

Maka aku bisa mengatakan bahwa “Aku tidak menolak nada Apapun”
…..

Namun benar…..Hingga hari ini, dari setahun atau dua tahun yang lalu….Trivium tetap menjadi pilihan disaat benar-benar “dingin” (meski album barunya agak2 “terlalu lembut” menurutku), dan beberapa “Beratnya Metal” Iron maiden, including cover version nya…..

Baru saja Sign dengan “Run to The Hills” Nya selesai….dan Backsoundnya sekarang adalah Trivium, “Down From The Sky”…

Akhir-akhir ini aku sering kehilangan minat untuk menulis, entah kenapa, aku merasa menulis menjadi tidak ada artinya, hanya menggores-gores pena pada kertas dan menjadi kata-kata tak bermakna, kalaupun memiliki arti khusus, toh hanya aku yang mengetahuinya. Berhadapan dengan “papan aksara” ini pun tidak menjadikan semangatku timbul untuk “meracau lewat font”. Maka selanjutnya aku merasa lebih nyaman bergelut dengan buku-buku, artikel-artikel, segala macam majalah, koran-koran, dan suasana lalu lalang di bawah jembatan penyebrangan. Sigkatnya….Membaca….

Ada banyak hal yang membuatku merasa bahwa menulis menjadi sesuatu hal yang membosankan, tidak membawa perubahan apapun dan hanya membuatku berpikir keras untuk menempatkan kata per kata untuk menyampaikan apa yang menjadi ide didalam pikiranku. Aku mungkin tidak lagi menikmati suasana menulis. Maka di suatu titik aku memutuskan berhenti menulis dan menikmati kata-kata yang ada pada diktat, buku, jurnal, apapun…..

Aku menikmati membaca…..

Setidaknya hampir satu tahun ini mataku seharusnya membutuhkan kaca mata baca (meski aku senantiasa tidak memakainya…..) mengingat fokusnya semakin kacau jika membaca atau surfing berlama-lama. Tapi itu tidak terlalu penting menurutku. Maka akan ada kegiatan “mencari baris cahaya” jika membaca di ruang gelap, atau menyipit-nyipitkan mata di depan monitor.

Aku sebenernya berpikir dan tidak tau menulis apa…..

Maka aku menuliskan apa-apa yang kupikirkan saja…:D

Kemarin aku sangat tidak sehat, meskipun tubuhku sangat fit mengingat aku cukup tidur dirumah(…jika tiba di kamar maka 15 menit terlelelap adalah surga…). Pikiranku sebenarnya sangat kacau. Setidaknya ada beberapa orang yang dengan semangatnya memberikan semangat padaku untuk tetap pada kondisi yang sehat secara pemikiran. Namun mungkin akibat dari “emosi yang meluap-luap” maka kebencian akan sesuatu bermain-main dengan tidak sopannya di kepala ku ini, melintas-lintas, sesuka hatinya. Seharusnya ini hanya butuh 24 jam saja untuk dienyahkan tapi aku kesulitan, aku masih terpaku pada objek….

Maka selanjutnya adalah objek tersebut yang harus disingkirkan….dan itu yang aku lakukan.
Hari ini, sudah lumayan, akujuga tetap memilih terkapar di rumah ketimbang di Lantai 3, mungkin karena pertimbangan bahwa aku hanya akan tinggal di rumah dengan Lulu, adikku, selama beberapa waktu, maka aku memilih pulang…..

Tapi tentu ada yang tidak berniat pulang…..dan tentu akan ada yang memaksanya pulang juga ada yang tetap diam saja dan tersenyum mengerti…..

Aku mungkin tidak sedang baik, lebih tepatnya mungkin aku sedang tidak ingin berbaik-baik. Jika ada sekat ruang dimensi nyata dalam kehidupan, maka aku akan senantiasa menutup diriku dengan persegi terbuka, menikmati memandang langit biru dan bintang terang, merasakan dingin tetesan hujan dan embun pagi, sendiri, hanya ada aku dan diriku, karena aku merasa butuh ruang, ruang dimana aku bisa menghargai diriku sendiri dengan lebih baik.

Kini ruang ini benar-benar kecil, aku tidak lagi menikmatinya sebagai suatu tempat semedi, maka selanjutnya aku mengintip keluar, dan kejadian tetap sama dengan ketika aku memasuki persegi terbuka ini. Maka mungkin aku bertahan untuk beberapa hari lagi, meski aku tau, hasilnya tetap tidak akan ada malaikat yang masuk melewati ruang terbuka pada atas persegi ini…..

Hanya beberapa hari lagi…..

Lalu apa yang akan aku lakukan ?

” Aku hanya punya mimpi sederhana…..menyaksikan salju pertama turun di suatu musim dingin….maka untuk itu adalah melintasi benua …”

……..

Selanjutnya, aku sedang menulis kembali, pada apa-apa yang kutinggalkan kemarin, aku berhasil menyelesaikan semuanya dengan cantik. Tapi ada beberapa hal yang menurutku masih membutuhkan waktu untuk bisa diselesaikan dengan rapi. Maka untuk itu aku memiliki segenap waktu, meski kadang aku meracau untuk bisa memundurkan pagi pada malam, dan berharap hari ini adalah kemarin. Tapi itu hanyalah racauan, aku cukup sadar dan waras serta tidak dibawah pengaruh jin manapun untuk memahami keadaan bahwa aku harus hidup hari ini untuk tetap bertahan esok hari.

………

Jadi, setelah ini akuhanya akan memanfaatkan momentum, sebuah impuls untuk tetap menulis, tidak berhenti membaca, menulis sambil membaca, dan menyatakan bahwa aku akan berperang dengan kemalasan, kebengalan, ketidak ingin maju….

Aku hanya ingin melintasi benua…..menikmati salju pertama….dan berkata pada seseorang bahwa….

” telapak kakiku telanjang…..dan butiran salju itu turun perlahan…semakin lama semakin banyak, dan aku merasakan kehangatan luar biasa ketika deru angin memelukku erat….”

………….

Dan….untuk saat ini, hanya ini yang ada di pikiranku….

Bohong…..aku juga tengah memikirkan bahwa perut ini lapar sekali, aku tidak makan apa-apa tadi pagi, maka selanjutnya aku memikirkan untuk bergegas ke rumah makan minan di seberang jalan….

Aku lapar membayangkan Tempe Goreng Renyah yang di jual di Warung itu….

Karena itu aku makan dulu………yaaaa…..

Ps: yaaaappp benarrr.....ini judulnya....."Ntah hapa-hapa lah si No inii......"

Gampar Boleh ????

Sedikit memandang dan merenung.... 6 Comments »

Mate’s…..

Setidaknya, dalam 2 minggu ini, sudah ada 2 target yang pengen ku beri “sengatan Listrik Purba” atau sedikit “Cakar peremuk Tulang”, “bahkan mungkin sedikit “Jurus Embilan Matahari”….

Gara-garanya sih sepele…..

Kejadian pertama…..entah tanggal berapa persisnya….Lupa!…( :D )

Di sbuah bengkel, sedang menunggu kendaraan selesai di servis. Sembari menunggu, aku membaca-baca buku komik “Bil dan Bul” yang sudah maha lusuh dan tidak bercover lagi, yang secara tidak sengaja kutemukan di lemariku. Baru beberapa saat aku tersenyum-senyum sendirian (yang membuat seorang anak kecil terheran-heran melihatku sambil menyilangkan jari di jidatnya….)bengkel yang nyaman ini kedatangan seorang lelaki yang gayanya sangat meriah. Dia duduk disebelahku, dan kemudian secara aktraktif memulai pembicaraan. Dengan tema bebas dan cukup menarik. sebagai lelaki terpelajar, meski kadang-kadang kurang ajar, aku melayani pembicaraan lelaki tersebut dengan antusiasme yang tidak kubuat-buat. Maka kuletakkan komik lusuh itu dan terlibatlah aku dalam sebuah dialog interaktif dengan lelaki tersebut, yang mungkiiiin dengan sedikit nyaman kita sebut namanya Bang Toyib.

Ada banyak hal yang kami bicarakan, dari harga cabe hingga pasar valuta asing. Dari Bung Hatta hingga Bung Rhoma. Dari Roy Jeconiahnya Boomerang hingga Roy Suryo yang pakar TeleSEXmatika….Dari pembicaraan ngaco ala Bang Joni di Eumpang breuh, Hingga hak-hak masyarakat sipil sebagai warga negara…..

Intinya……Panjanggggg Lahhh……

Yang memuakkan dan membuat ku kembali ke komik sambil mengelus-elus dada tipis tulang belulang ini adalah….ketika Bang Toyib bertanya…

Bang Toyib : Adek ni aslinya orang Aceh Timur ?

Rully Maniez :Enggak Bang…

Bang Toyib : Tamang barangkali yaa ? Soalnya agak lain….

Rully Maniez : Bukan Bang….Ayah asli Aceh Besar, dan Ibu Asli Gado-Gado….emangnya kenapa Bang Kok bisa abang bilang “agak Lain”

Bang Toyib : abang liat telinganya ada bekas “subang” (bekas tindikan, red) dan abang peratiin ngomongnya agak lain.

Rully Maniez : (Mulai agak suntuk…) Maksud abang “Bahasa Aceh” saya ya bang ??

Bang Toyib : itu jugak, makanya abang pikir kamu pasti punya darah Aceh, cuma mungkin agak ketimuran….(tanpa menjelaskan timur itu kemana….red). Apalagi waktu ngomong aceh, bahasanya kayak Dek Yusniar hak..hak…hak…(sambil ketawa, padahal jayusss…..tapi mayan lah…setidaknya dia menganggap dirinya lucu…padahal enggak..!!!!!)

Rully Maniez : (Mulai pasang muka perang….!!!!) Begini Bang, kalu ditanya orang, saya selalu bilang saya Asli Aceh, yaaa….karena Ayah saya orang Aceh.

Bang Toyib : (memotong dalam lipatan….ehhh…pembicaraan)Tapi bahasanya kek gitu, ga percaya lah orang kalo adek ni orang Aceh….

Rully Maniez : (Dah Mulai eneg…tapi ingat lagi puasa….)Kok bisa gitu bang ?? Parameternya apa cuma di kemampuan bahasa ???

Bang Toyib : ya itu lah pasti….

Rully Maniez : (secara terpaksa….SELF DEFENCE..!!!!!) Begini bang eeee. Saya akui bahasa aceh saya kacau, ya dari pelafalan, tapi tidak dari pemahaman. Kalu saya pulang kampung, nyaris seluruh sanak famili dan handai taulan berbicara dengan saya dalam bahasa Indonesia. Senekad apapun saya berbahasa Aceh, teteeeepppp diajak berbahasa endones kenapa ?? saya juga ga tau….dengan sepupu2 saya…mereka berbahasa Aceh, dengan Abang-abang saya mereka juga berbahasa Aceh, cuma dengan saya dan adik saya mereka berbahasa Indonesia. Jadi jangan salahkan saya yang punya kampung di Indrapuri tapi berbahasa ala dek Yusniar….lah saya dipaksa nomong indonesia….!!!! Lalu….soal parameter tadi…(mudah2an dia ngerti parameter itu apaa….ndak da waktu jelas2in….lagi semangat ngocehh…!!!!, red), ndak cuma “menguasai bahasa secara ganasss dan mantap”, tapi lebih dari itu….Bahasa mah gampang baaanggg….saya cuma numpang lahir di Manchester, english saya active kok, Should i continue my explanation in english ?? ga usah ah….nanti abang bilang saya sombong…padahal saya kan angkuh bangg…..(kalu yang ini beneran ngarang…….red)

Mari kita Bicara soal Daud Cumbok….abang pernah dengar ???

Bang Toyib : Belum pernah dengar saya…..(sambil senyum2 pulak……red)

Rully Maniez : Kalu Haji Puteh ???

Bang Toyib : blom pernah denger juga dek…(mulai ilang senyumnya dikit-dikit)…

Rully Maniez : (Dengan senyum penuh kemenangan)Kiban cara ureung Aceh hana i teupeu Daud Cumbok ngen Haji puteh ??? (Acem mana pulak orang Aceh tapi ga tau Daud Cumbok ma Haji Puteh???, terjemahan sebebasnya dari red) Itu Kan sejarah Nanggroe Geutanyoe (Negeri Kita) Banggg……

Bang Toyib : (Manyunn…)

Rully Maniez : Saya memang tidak mampu berbahasa Aceh dengan baik, Lagee kameng ek ateuh batee (Seperti Kambing ngetrack dimedan Paris-Dakar, terjemahan sangat bebas dari redaksi). Tapi dari saya kecikkk lagi (ngutip upin dan ipin) saya udah di ceritain tentang sejarah ama orang tua saya, kakek, juga keluarga besar. Sebagai acuan ketika saya ketemu orang-orang kaya abang….Dan untuk pengetahuan seminim itu, yang ternyata abang tidak tahu, apakah saya tidak boleh mengatakan “Saya Orang Aceh ???”. Meski cita rasa di rumah cenderung Nasional, Lidah saya gemar dengan Kuah Pliek dan Asam Sunti”, dan itu sudah saya cicipin semenjak saya mengerti ibu saya sedang menghayak beulangong (masak-memasak….terjemahan bebas lagi, red). Jadi apa saya bukan orang aceh ???

Bang Toyib : (tetepppp Manyyuuunnn…..)

Rully Maniez : Dan soal tindik ini bang…..ini murni khilaf saya. Sok patennya anak muda, yang ga punya filter ama gaya hidup masa kini. Cuma kan abang liat sendiri, itu “bekas” ndak da saya pergunakan lagi kok…..

Bang Toyib : (Mau Motong….tapi kepotong duluan ama sayaaaa)

Rully Maniez : Jadi…kalupun ada sejuta manusia yang bilang saya tidak pantas sebagai orang Aceh, maka saya akan mengatakan dengan Bangga bahwa saya “Lelaki Hitam manis yang punya darah aceh, dan tentu saja saya anak Aceh!!!!”

Bang Toyib : ohhh……(cuman itu aja komentarnya…..Maha tidak kreatiff…!!!!)

Rully Maniez : (sambil memberikan senyum paling licik…) yaa…Kita ga bisa ngeJudge The Book From It’s Cover (yang artinya kira2…..Jangan mengadili Buku Seakan-akan dia adalah Koper).Setiap orang punya kesempatan untuk disejajarkan dengan kita berdasarkan potensinya….dan saya cukup berpotensi kok bang…..

Bang Toyib : (senyum dikulum….yang mungkin berkata dalam hati “Nyooooeeee Kadangggg…..”)

Kemudian saya sudah terlibat pembicaraan dengan montir, dan menerima berita bahwa kendaraan saya selesai di servis. Kemudian segera saya berambus dari bvengkel tersebut, tak lupa menegur Bang Toyib sebelum pulang….meskipun dalam hati masi pengen kasi Kultum (Kuliah yang tidak sama dengan Kustum)….dengan Hasrat menggampar yang cukup besar…..namun teringat kata ipin…”Puasee….Puaseee….Puaseee…”

Maka dengan menyisakan rasa Gondok(rasanya agak2 sepet2 gitu….cobain dehhh :D )…..Lenyaplah saya dari bengkel tersebut….

(To Be COntinued……Sahur Dulu……:D)

Flashpoint : Seminggu “Berputar-Putar”

Cerita dari Lantai 3 2 Comments »

Minggu….7/9/08

Disuatu daerah, melewati Lanud AU, desa yang bernama Empe Awee (dimohon maaf jika salah ketiknya….). Bersama 4 Berandal Ganas….merekalah Nesta, Ichi, Fadel dan Sheva…juga ada Ibun sebagai babysitter….:D

Sepanjang perjalanan, harus mendengarkan ocehan khas anak-anak yang berisiknya naudzubillah…..dapet 3 atau 4 tonjokan di perut dari Ichi….dan akhirnya sampailah di tujuan….

Tidak bertemu dengan subjek yang dicari, malah ketemu dengan knalan lama, bernama Muhammad, dan sudah menikah……dengan istri yang pantesnya dipanggilnya sebgai kakak (…tentu senyum2 pas ngeliat Muhammad di panggil “abang” oleh istrinya itu…..tapi….itulah nikmatnya menikah bukannn ??? )

Tuhan maha mengerti yang paling baik untuk kita…….maka batasan apapun tidak menjadi masalah jika kuasanya sudah bermain……

dan “perputaran” itu dimulai siang itu……ketika sadar bahwa ponsel sudah terblokir……

Senin….8/9/08

Dari sahur sebenernya udah mulai ga beres…..cuma demi melihat sie reuboh dan beberapa aksesoris sahur lainnya, maka sahur tetep jadi semangat….ditambah beberapa butir obat2an….maka sempurnalah sahur pagi itu…..

bertahan hingga jam 12 siang….

setelahnya ???

Keringatan…..dingin pula…..badan menghangat….dan dunia berputar-putar…….

maka aku memutuskan untuk pulang ke rumah (sambil sebelumnya singgah di provider buat membuka blokiran ponsel) dan kemudian terkapar…..

sebenernya tidak terkapar 100% sih….

Vomitting……sepanjang hari….

keluar masuk kamar mandi….sementara perut kosong melompong……

bener2 menyakitkan….:(

Selasa….9/9/08

sahur bener2 ga berasa apapun….paiittt….

tidak juga ngerokok…..cuma maksa ngisi perut biar ga kosong setelah nyaris 12 jam muntah2 sampe nyaris mikir pengen di infus….:(

dan cuma rebahan…..rebahan….dan rebahan…..

setidaknya dapet info (yang sebenernya amat2 basiii….)

Bahwasanya televisi kita sepanjang hari hanya diisi sinetron sahaja, bersambung menyambung di tiap-tiap jamnya di berbagai channel…..dari sahur…hingga berbuka…..

Juga mengerikan, sama seperti perut berputar2 ternyata……:(

Rabu….10/9/08

Sudah mulai merasakan udara bebas…..setelah semalam nya nekad ke station mekipun tidak napa2in …..cuma ngecek email, browsing, dan terkapar…..

bodonya……yang dicari pertama kali justru rokok…:((

tapi kata dokter “kalau sakit rokoknya dibrentiin dulu yaaa???” kan ??

nah berarti saya sudah sehat……:D

setelah berbuka…..

cuma teh hangat…..

dan langsung sempoyongan……:(

masi belum ilang berputar-putarnya……..

kamis……11/9/08

sudah mulai enakan…..meski lidah masi paittt….

tapi udah mulai melancarkan “serangan listrik purba” juga “sembilan matahari” ke Joen dan Fahmi…..

selanjutnya fahmi ngoceh “ko kenapa ga sakit yang lama dikit No, biar aman dunia….” :))

do’a yang sangat kurang ajar…..

tapi….mengingat kebangsatan saya terhadap mereka….sudah wajarlah….:))

dan…..ekstra pusing setelah berbuka….

Nekad minum kopi buat menunya sih….:(

Jum’at…….12/9/08

Kakinya masi nekad kebas……

berasa selalu setelah sahur…..

sempet dapat pesan singkat dari seseorang…..dan sempat salah balas pesan singkatnya juga…..kacaw….:))

perut juga agak sedikit tidak bekerja sama….

“Pasti Kopi ituuu….” begitulah Ibun berkata….

Hwaaa……tidakkk…..

Ps: Kopi tidak baik jika perut kamu masih berputar2……percaya kata2 saya dehhh…..:D

Sabtu……13/9/08

setelah berbuka….diawali dengan pertanyaan konyol Fahmi…

“Malming ya malam ini No ???”

Nyetir sambil bersenandung……

“Maaaaaaaalam mingggu datang lagiiiii……Malam Minggu yang Bosan Laaaagiii…..Malam Minggu yang seeepppiiii…..”

Fahmi nyolot….”itu kan lagu aku No….kok ko pulak yang nyanyi…..”

dia tidak sadar bahwa saya juga kesepian…..

maka selanjutnya adalah bergabung bersama orang-orang gila lainnya di sebuah warkop yang menjadi tempat nongkrong baru…..

sambil berasa perut yang berputar2…..

tapi tidak menghambat kita untuk berbuat konyol dan tertawa lepas bukannn ???

Minggu…..hari ini…..14/9/08

Sepanjang hari cuma ngeluh sakit perut……

ndak bisa ke station pagi2 jadinya istirahat sampai siang…..baru jalan ke station….

Joen sudah 2 hari sakit, dan belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan….

Makin sarap keadaan jika si Fahmi ikut2an sakit…..menyusul kroninya yang sudah meler2 dari 2 hari yang lalu……

Masi tetep berputar2……apalagi setelah ngopi dikiiiitttt tadi…..rasanya semakin kacau…..

Tapi anehnya……pas lagi bergelut dengan hitung2an….nyerinya ngilang…..malah ga berasa….anehhhh…..

Dan mulai berasa lagi…..sesaat sebeum tulisan ini di bikin…..

intinya….

“banyak2 makan sayur ya, biar ga “payah” lagi….” kata seseorang….

“istirahat yang banyak, demam bisa sembuh kok kalu istirahatnya total” kata bu dokter…

“Saket ko yaaa ??? kapan sembuh kita ambil gitar yaa” Kata ruben….

“Ko selesein teros baca Tiger Wong nya, biar kita sewa lanjutannya….” kata si Fahmi…

“masih sakitkah bg?lama tak mendengar kabarmu…” kata Dee juga siKribo….

“ga jadi lagi kita Bubar” kata Dek La….

dan beragam komentar lainnya…..

Welll…….

Derita ini jadi Flash Point of This Week lah buat saya…..:))


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in