Suatu Siang…..
Seorang anak….hitam, botak, berkaos singlet dengan hanya bercelana dalam…
tengah menatap dari jendela rumahnya…
diluar terlihat beberapa anak sedang bermain riang, menggelindingkan ban bekas, tertawa riang, tanpa beban. Di jendela itu, sang anak, ulil namanya, sedang tersenyum seakan ikut bergembira dengan mereka yang tengah bermain. Tak peduli panas terik, tawa riang anak-anak membahana memenuhi lapangan.
Tak lama 2 orang bocah berjalan menghampiri pagar rumah Ulil, Apit dan Aris, meneriakkan namanya.
"Ulil…..Ulil….Main Yokk….."
Dan tanpa di komando Ulil langsung berlari menuju pintu depan, bergegas ingin bermain bersama kedua temannya, akan tetapi…
"Hei…Ulil harus tidur siang, nanti sore ya mainnyaa" terdengar suara kakak Ulil mengusir secara halus kedua temannya.
Ulil yang telah sampai ke pintu depan rumahnya namun sang kakak menahan tangannya. Ulil memberontak, karena ingin bermain, Ulil berteriak keras sekali, namun semuanya pemberontakan itu dihentikan dengan cubitan ditambah sedikit gelegar kemarahan sang kakak. Ulil hanya bisa berlari, kembali ke kamarnya, sambil menangis dan menyaksikan Apit dan Aris yang tengah berjalan gontai, karena tidak bisa bermain bersama Ulil. Ulil terus menangis, menatap lirih di Jendela, hingga akhirnya ia letih dan kemudian jatuh tertidur. Dalam mimpinya, ia menemui apit dan aris, bermain bersama, tertawa riang, tanpa beban…..
Beberapa tahun kemudian….
Ulil sedang mencari dasinya, hari ini hari pertama ia masuk sekolah. Sebuah sekolah favorit di kota kecil tempat ia tinggal. Ini hari pertamanya belajar di sekolah dasar. Ia tak sabar, mengingat cerita kakak-kakaknya, bahwa di Sekolah nanti ia akan menemui banyak hal baru, bertemu kawan2 baru, dan bebas bermain….
Seiring waktu…
Ulil kecil mulai bosan dengan sekolah, tak lebih menjemukan dengan taman kanak-kanak baginya. Ulil mulai sering terlambat. Dahulu Ulil berprestasi, kini Ulil hanyalah murid rata2. Tidak ada yang menonjol, kecuali dia mempunya banyak teman. Baginya, yang menarik di Sekolah adalah bertemu dengan teman-temannya, kemudian bersama2 mengarungi kota, menemui tempat2 baru, menemui hal2 baru. Dan Ulil setiap hari berpetualang, berbagai tempat di ketahuinya. Dan petualangan ini saling mengkrabkan mereka, satu sama lain saling bergantung, saling memberi semangat. Ulil kecil amat suka berpetualang, dan hari2nya selalu dilalui dengan petualangan2 yang baru, pulang di sore hari dan kemudian di omeli oleh ibunya. Tak jarang cubitan dan jeweran membuat ia menangis, tapi ia tak pernah jera, baginya kota ini amat sangat besar, dan banyak tempat yangbisa dijadikan arena bermain. Ulil kecil sangat sederhana memandang dunia, lewat bola mata kecilnya, tak ada satupun yang ia takuti….karena ia hanya ingin bermain riang gembira.
Kemudian…
Ulil sudah sedikit besar, badannya telah tumbuh, tapi ai masihlah Ulil kecil itu. Senantiasa diterapkan peraturan2, Tidur siang, Mengaji, Les, dan lain2. Ulil kecil terlihat mulai suka memberontak, tak jarang dia kabur disaat ia mengaji atau les. Ulil ingin tetap bisa berpetualang kapanpun ia mau. Ia tidak bisa dilarang, meskipun ia tahu, bahwa sesampainya di rumah akan banyak orang yang akan membuat ia menangis, entah di cubit, di jewer atau dimarahi. Itu adalah resikonya, resiko yang berani diambilnya, hanya untuk menikmati masa kanak-kanak….
Ulil mulai mengenal dunia yang jelek, dia sering bermain dengan anak2 berandal, sering terlihat bermain di tempat-tempat kumuh, arena dingdong, mengenal rokok, dan Ulil kecil mulai nakal…..
Ulil mulai mencuri, karena uang jajannya tidak cukup untuk membeli rokok dan bermain ding dong. Tak jarang uang ibu, ayah dan kakak2nya berpindah tangan secara tidak layak. Ia merogoh kantong2 celana, dompet ibu dan ayahnya hingga kemudian ia tertangkap tangan…..
Tak ayal…beragam siksaan didapatinya….mulai dari sabetan tali pinggang hingga gagang sapu, melukai tubuhnya yang mulai terlihat ringkih, kurus. Ulil hanya bisa menangis….dan siksaan ini berulang kali dialami….hingga akhirnya dia sadar bahwa itu salah….
Ulil dikurung dirumahnya….hanya bisa bermain dengan koleksi mainannya yang banyak. Ulil kembali dipasung, dipingit, tidak bisa bermain riang gembira, dan ini merupakan resiko yang didapatinya akibat pemikiran sederhana yang mengisi ruang2 otaknya. Terkadang Ulil menyesali keadaannya, menyesali kebodohannya, tapi ia percaya…..suatu saat ia akan berpetualang kembali, sembari menyusun rencana…
Sebuah cita-cita kecil, oleh seorang anak kecil yang kehilangan masa bermainnya….
Meskipun ini hanya sementara…..
Lalu….
Ulil kecil itu sudah sedikit besar. Tidak ada lagi Ulil yang dipingit dan dipasung, Ulil telah menjelma menjadi remaja. Suaranya mulai berat, badannya meninggi, namun tetap hitam dan kurus. Ulil memasuki jenjang berikut dari sekolahnya. Ulil tetap tidak suka Sekolah. Kerja Ulil hanyalah bermain bersama rekan2 barunya. Ia menciptakan dunianya sendiri, menciptakan peraturan-peraturan yang hanya ditaatinya sendiri. Ulil masitetap merokok, bergabung dengan berandal2, namun Ulil tahu ia harus berjaga2 sekarang, ia hanya ingin bermain dengan mereka, tidak untuk menjadi seperti mereka. Ulil tetap menjadi dirinya sendiri, tidak terpengaruh….
namun seperti biasa….itu hanya sementara…..
Ulil mulai berani berani menghisap ganja, namun ia tahu, barang haram itu tidak sepaham dengannya. Namun ia tetap mencobanya, karena Ulil tidak ingin ditertawakan teman2nya, dianggap kampungan, kolot dan tidak setia kawan. Ulil malu, tapi ia sebenarnya membenci apa yang ia lakukan. Hingga akhirnya Ulil terlalu mabuk……dan kemudian tidak bisa melakukan apa2, teman2 hanya menertawakannya…sementara Ulil memegang perutnya yang berputar2 tak karuan juga kepalanya yang terlalu ringan. Ulil Jera…..dan membayangkan siksaan yang pernah dialaminya…
ia takut ketahuan…..ia ingin berhenti….dan ia harus berhenti…
DIA BERHASIL…..tanpa harus kehilangan teman2nya…
Ulil berhasil menjadi dirnya sendiri….
Dan….
Ulil sudah berseragam putih abu2. Masi tetap sekolah, bahkan kali ini ia diterima di kelas inti. Entah kenapa, meskpun ia bandel, tapi otaknya termasuk cepat menangkap pelajaran. Ulil suka membaca, amat gemar membaca. Juga ia suka menulis, menulis apa saja yang ingin ditulisnya. Kamarnya penuh dengan kertas2 coretan. Kegemaran ini yang membantunya, sehingga meskipun ia bandel, tapi ia bukan anak yang bodoh. Tak jarang guru2 geram melihatnya, namun melihat prestasinya yang lumayan, guru2 hanya bisa mengelus dada….
Bahkan bunda sering mendukungnya, begitu juga ayah. Terlihat bahwa kepercayaan mulai direngkuh kembali oleh Ulil. Dia begitu trauma kehilangan kepercayaan, siksaan dimasa kecil membuatnya menjadi pribadi yang amat tertutup, meskipun dia adalah badut diantara teman2nya.
Ulil jatuh cinta untuk pertama kalinya…
Selama ini ulil sering dekat dengan beberapa gadis, akan tetapi itu hanyalah untuk gaya-gayaan didepan teman2nya. Tak ada satu gadis pun yang bisa membuat Ulil jatuh cinta…
Hanya satu gadis….Gadis kecil berkepang kuda….teman sekelasnya yang juga teman bercandanya. Ulil jatuh hati pada gadis itu, meskipun terkadang gadis itu kasar padanya. Tapi Ulil tahu, gadis itu amat sangat memperhatikannya. Tiap kali gadis itu menjadi mulai dengan kecerewetannya, Ulil terpesona, karena ia tahu gadis itu tengah berupaya mengubah Ulil untuk menjadi lebih baik. Tapi bukan menghakimi Ulil, karena Ulil benci itu. Ia tahu ia salah, tapi ia tak ingin disudutkan dengan segala kesalahnnya. Gadis itu tahu bagaimana memperlakukan seorang Ulil, gadis itu mengisi benak Ulil, dan tiap malam dilalui dengan membayangkan sosok gadis itu. Kadang beberapa lagu tercipta melalui petikan gitar Ulil, juga beberapa puisi indah, hanya ditujukan pada gadis itu. Gadis itu berhasil merubah dunia Ulil, menambah satu warna dari dua warna yang selama ini mendominasi dunia Ulil. Hitam Putih kini diisi Cinta……
Tiap hari mereka selalu bersama, saling berbagi cerita, tidak hanya di sekolah…terkadang pembicaraan dilanjutkan melalui telepon, dan malam hari adalah waktu yang amat ditunggu Ulil. Ia akan bebas bercerita, berkeluh kesah tanpa harus malu untuk ditertawakan, tanpa harus merasa jengah ataupun rendah diri….
Ulil percaya pada Sang gadis, begitu pula gadis itu. mereka seakan tercipta saling melengkapi.
3 tahun terasa amat pendek, ketika Ulil harus keluar daerah, untuk melanjutkan sekolahnya….menuju perguruan Tinggi…..
Di pelabuhan itu, keduanya saling mengenggam jemari, saling menguatkan, ketika mereka akan berpisah, dan ia melihat sang gadis menangis ketika kapal mulai bertolak….
Ulil sangat sayang pada gadis itu…..
Jauh disana….
Ulil tetap membawa gadis itu di dalam hatinya, dan beberapa kali percakapan melalui telepon sekedar untuk memuaskan kerinduannya. Hingga akhirnya Ulil harus pulang, Ayah sakit Keras. Ulil ingin bersama ayah, ketika vonis dokter mengatakan ayah tidak mampu bertahan. Ulil tidak ingin sekloah lagi….Ulil ingin pulang. Sifat manjanya menjadi, Ulil hanya ingin dekat dengan keluarganya, terutama di masa2 seperti ini….
Pulang…..dan itu berarti bertemu kembali dengan gadis itu….
dan ia memang bertemu dengan gadis pujaannya……
Akan Tetapi….
Gadis itu bukan lagi menjadi milik Ulil, Gadis itu telah dimiliki oleh lelaki lain. Ulil amat marah, akan tetapi Ulil bersabar, Ulil tahu ini adalah resikonya, ketika ia merasa memiliki sesuatu, ia harus rela untuk kehilangannya. Gadis itu pergi, juga demi kebaikannya, demi Ulil. Meskipun hal itu tidak pernah bisa diterimanya….Namun gadis itu tidak benar2 pergi, gadis itu tetap menemani hari2 Ulil, meskipun tidak seperti dulu. Hingga akhirnya Ulil memutuskan untuk pergi, meninggalkan segala rasa, Cinta dan juga asanya. Ulil tidak ingin bergantung pada siapapun.
Ayah juga ternyata sembuh….dan tetap bersama Ulil dan keluarganya. Namun….Ulil sadar, dia kini sendiri…..
Selanjutnya
Ulil memutuskan kuliah di kota kelahirannya ini, berarti bertemu dengan teman2nya lagi, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri, dia harus menjadi sesuatu. Tidak ingin bermain2 lagi. Meskipun terkadang kemanjaannya muncul, namun Ulil menjadi lelaki yang sedikit dewasa. Ulil menjadi panutan rekan2nya. Ia menciptakan komunitas baru, menciptakan suasana baru, dan beberapa rekan2 Ulil mendukung penuh Ulil. Dunia Ulil menjadi lebih semarak, ia tidak perlu cinta yang lain, ia mendapati di Dunia barunya ini ……
Namun sebenarnya ia memendam rasa pada sang gadis…..kerinduan yang amat dalam….yang hanya diketahui ulil dan berbatang-batang rokok yang dihisapnya perlahan di loteng rumahnya, malam hari menjadi begitu kelabu bagi Ulil, karena ia hanya akan menghayalkan sosok gadis pujaannya…namun dalam suasana hati yang berbeda….
Dan kemudian….
Seiring perjalanan waktu, Ulil mendapati dirinya sebagai orang yang menonjol diantara rekan2nya. Beberapa gadis mulai mendekati Ulil, tapi Ulil seperti acuh, dia tidak menghiraukan, dia cukup puas dengan dunianya bersama rekan2nya. Ulil pun tumbuh dalam dunia yang hanya dimengerti olehnya. beberapa kali Ulil jatuh, tapi tidak sampai luka. Ulil cepat sembuh, tidak berlarut2 dalam kesedihan ataupun kepedihan. Hidup seperti menempanya untuk menjadi lelaki yang kuat. Meskipun ia hanyalah bocah lelaki kecil yang rapuh…tapi Dunia tidak perlu tahu itu….
Dia menyimpan rapat2 dan menonjolkan kekuatannya, hanya untuk menutupi kelemahan2nya sebagai Ulil Kecil….
Lalu…
Ulil menghadapi badai yang cukup kuat…..
Bencana menerpa kota Kecilnya, meskipun Ulil dan keluarganya selamat…..
Tapi Ulil harus kehilangan beberapa rekan, teman, saudara, dan juga orang2 yang dekat dengannya. Ulil Goyah…..tapi tidak boleh berlama2…..karena bahunya diperlukan untuk mereka yang ingin menangis di bahu ulil, pelukannya di butuhkan untuk mereka yang ingin mencari kekuatan di pelukan Ulil. Dia tidak boleh lemah. dan Dia berhasil lewat, menguatkan banyak orang, memberikan dukungan semampunya, dan hanya menangis sendirian. Tidak ditemani siapa2….
Ulil menemukan sosok baru…..
Seorang yang dulu dikenalnya biasa saja, yang pernah dekat dengan dia sebentar. Ternyata memberi warna bagi Ulil….Ulil kemudian menanggapi uluran tangannya. Dia seorang gadis manis, tidak berkuncir kuda, tapi punya sesuatu…sesuatu yang membuat Ulil kagum. Gadis itu terlihat sangat dewasa, menanggapi segala keluh kesah Ulil dengan tangan terbuka.
Tiba-Tiba……Ulil jatuh cinta untuk kedua kalinya…..
Perlahan…..
Hidup Ulil menjadi sempurna, Ulil masih memiliki keluarganya, memiliki teman2nya meskipun tidak lagi utuh, juga seorang gadis yang menyayanginya dengan tulus. Sepertinya Ulil tidak butuh hal lain. Tanpa terasa, Hidup Ulil menjadi sangat Normal. Tidak ada lagi petualangan2 yang dilalui Ulil, hidupnya menjadi teramat sangat standar, dan Ulil mulai Jengah….Tapi Ulil tidak boleh lari kali ini. Ulil menerimanya sebagai suatu pengalaman baru, dan Ulil menjadi manusia yang baru….
Tapi badai datang lagi…..tapi kali ini bagi hati Ulil….
Gadis yang dicintainya mulai bertingkah, Ulil begitu terbeban. Kehidupan Ulil bersama rekan2nya terusik dengan datangnya gadis itu. Ulil mencoba mengalah dan memilih untuk meninggalkan rekan2nya sementara demi gadis itu….Namun Ulil tetap tidak dimengerti….Hingga akhirnya pada suatu saat, ulil kehilangan kesabaran…..dan gadis itu dilepaskan Ulil untuk pertama kalinnya…..
tapi tetap saja Ulil kembali pada sang gadis, karena Ulil tahu, Cintanya butuh pengorbanan, dan Ulil menikmati pengorbanannya tanpa harus dibalas dengan pengorbanan yang sama. Ulil hidup dengan kesabarannya, meskipun terkadang Ulil merasa hidupnya benar2 terkekang dengan beragam peraturan2 yang memuakkkan.
Ulil Protes……tapi kemudian didiamkan…
hanya karena Cinta Ulil……Ulil menjadi Lelaki penurut….
ini terjadi berkali2…….dan Ulil tetap bersabar….
Beragam model omongan di luar seakan memancing emosi Ulil….
tapi Ulil tidak bergeming, dia tetap keukeuh untuk bertahan, hingga dia menemukan sosok lain..
sosok yang sangat berbeda, sosok yang memberi warna dalam hidup Ulil, sosok yang sangat kuat menurut Ulil sementara hidup yang dihadapinya sangat tidak indah. Berbeda dengan Ulil yang bebas dipaksa untuk terikat, sosok ini tidak punya pilihan selain terikat, sosok itu amat sangat normal. dan Dia ingin Ulil mengenalkan Dunia Ulil padanya….
Ulil kemudian dekat denganya, dan sepertinya Ulil juga sudah cukup muak dengan hidup yang lurus dan datar…..tanpa dinyana suatu saat Ulil meledak…dan meninggal kan gadis yang dicintainya, dengan kemarahan yang tidak dapat dibendung, karena Ulil tidak lagi sanggup untuk bersabar…
Ulil meninggalkan gadis itu dengan harapan gadis itu akan berubah suatu saat….meskipun pada saat itu gadis itu sudah tidak bisa dimiliki Ulil lagi…..tapi Ulil cukup puas untuk bisa memuntahkan semua isi hatinya….
Tapi kini, Teman2 Ulil berada disamping Ulil, memberikan motivasi dan dorngan baru bagi Ulil, juga memberikan semangat baru untuk Ulil untuk menjadi Ulil yang dulu….
Ulil seperti tersadar, bahwa hidupnya akan senantiasa seperti ini, harus memiliki kesabaran yang lebih, karena hingga saat ini tidak banyak harapan Ulil yang bisa menjadi kenyataan. Namun Ulil sadar betul bahwa suatu saat hidupnya akan menjadi lebih baik, jika ia bisa menikmati, seperti Ulil kecil dengan dunia petualangannya. Ulil mulai mengatur rencana….mengatur kembali hatinya yang terpecah2 Ulil punya misi baru…Ulil ingin menaklukkan dunia…
Ulil tidak ingin dijajah lagi…..dipaksa mengalah….Ulil menjadi sangat Terdorong sekarang…meskipun tak pelak Ulil terkadang tgeringat sosok yang pergi meninggalkannya….Ulil sadar, bahwa Ulil jatuh cinta pada sosok itu, tapi Ulil sadar penuh bahwa dia bukan sapa2 yang bisa merubah dunia bagi sosok itu. Meskipun keyakinan Ulil amat Tebal, tapi Ulil lebih memilih untuk merapatkan kembali hatinya, mengatupkan mulutnya, dan membutakan hatinya untuk sementara ini….
Ulil kembali pada dunianya…..
Dan Ulil hanya ingin menjadi Ulil Kecil yang Hitam, Botak, Berkaos Singlet dan hanya bercelana dalam, kemudian menatap dunia yang kejam ini dengan tatapan yang tana beban dan sederhana, Lewat jendela hatinya yang mungil…
Ulil……tetaplah Ulil…..tidak akan menjadi sapa2…..
KArena Ulil terlahir untuk menjadi Ulil…..Bukan menjadi Orang lain….
Ulil akan tetap bertahan pada jalurnnya, berusaha menjadi yang terbaik bagi sekelilingnya meskipun Ulil terkadang harus merelakan dunianya menghilang atau dirampas….
Kini Ulil semakin beranjak dewasa…dan berusaha untuk tetap menjadi Ulil yang sederhana……