“Ulang Kelai” dan Edisi Menulis……
Cerita dari Lantai 3 No Comments »Oke…sebenernya ini tidak begitu penting, cuma aku ingin mencatatnya, yang bisa di baca kemudian….atau malah tidak sempat dibaca lagi minimal aku udah nulis tentang ini…:D
Jadi…..
Pada suatu siang, aku dan Joen terlibat pertarungan maha dahsyat yang mempertaruhkan semua harga pada diri kita masing-masing. Sebuah pemahaman tunggal atas pembuktian siapa yang paling diantara siapa. Dan pertarungan ini disaksikan oleh Fahmi (meski aku tau mereka saling menyayangi, tapi Fahmi akan cukup adil….:D ). Pertarungan ini kami lakukan dengan kesadaran penuh, juga dengan segala kemampuan serta kekuatan yang kami miliki, saling menyerang kelemahan lawan.
Pertarungan Winning Eleven versi PC….
Manchester United Vs Chelsea….
Tentu saja, Membantai Joen 4-1 adalah sebuah kemenangan besar bagi harga diri…..:))
Dan selanjutnya, abangku juga ikut bermain, meski tidak sepanas pertandingan sebelumnya, namun cukup membakar adrenalin yang sudah mulai jarang dilakukan akhir-akhir ini. tentu tidak bisa membakar adrenalin dengan baik jika dilakukan dengan tiduran saja bukan ?
Di tengah seru-serunya menekan tombol joystick, tiba-tiba terdengar celetukan Joen…
"Ly, Qo tau Bahasa Acehnya, ‘Once Again’ ?" katanya…
aku yang sedang asyik masyuk dengan Winning Eleven, mulai terpecah konsentrasi, dan berfikir….
"Once Again ??? Bahasa acehnya ? Wansemo?? " (catatan: Wansemo itu adalah ’slank’ nya dari ‘Once More". Umumnya dalam pertandingan volley yang service awalnya "menyentuh" net. Biasanya di sebut ‘Wansemo" atau di luar sana cukup "Net" saja…) Jawabku….
"Salah…..Mana da Bahasa Aceh Wansemo, Ly" Tukasnya mematahkan jawabanku.
"Jadi apa ?" Tanyaku kemudian.
Dengan singkat dia menjawab "Kelai" ( dengan pelafalan Ke-La-i)
Abangku dan Fahmi tertawa sejenak, setelah mendengar kata "Kelai" tersebut, dan Fahmi menambahkan dengan kata "Ulang Kelai, ya Joen."
aku yang terpelongo, karena mendapatkan kata yang sangat aneh di gendang telinga ini. "Ulang Kelai" adalah kata-kata yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Dan kemudian tiba-tiba "Ulang Kelai" ini menjadi butuh untuk di bahas bagi ku (tentu bagi seberapa orang tau benar bahwa aku sangat suka membahas yang kadang-kadang tidak penting untuk dibahas, tapi untuk khazanah berbahasa, aku merasa Ulang Kelai ini pantas untuk dibahas)
"Dimana di pake ‘Ulang Kelai’ tu ? Tanyaku….
"Jeh..Jadul Qo No…." Kata Fahmi
"Jah, dulu pas kita maen kelereng sering tu dipake, ‘Ulang Kelai ee…tadi ga serambang’ kek tu kira-kira kalimatnya" papar Joen..
"Ndak da dulu aku pake ulang Kelai, biasanya Ulang ja dah cukop, mana da pake ‘Kelai’ segala" lanjutku lagi.
"Ada Bodoh…!!!. Ko mang gak gaul dulu No.."kata Fahmi lagi (lah apa hubungannya Gaul sama ‘Ulang Kelai’ Ya? )
"Mungkin itu bahasa gay ya mie ? makanya yang Gay mengerti kata-kata Ulang Kelai itu??? "tukasku kemudian yang kemudian dilanjutkan dengan kata-kata nan jadul lagi…
"Ko enak no…..Ko gila…." Kata Fahmi sambil menyesali kenapa mau berdebat dengan orang sarap seperti aku ini…..
Sore Menjelang Maghrib di Tempat Biasa……
"Mie, Ko pernah dengar kata-kata Ulang Kelai?" Tanyaku pada Emond Moord yang punya bibir terlalu over bagi anak seusianya….
"ada Lahh…..Ulang kelai, jaman maen kelereng dulu" tukasnya sambil memasang gaya sedang menjentikkan kelereng. Tapi gayanya waktu menjetikkan kelereng ini sangat sungguh-sungguh, seakan-akan dia sedang berada di arena kelereng dan saat itu adalah gilirannya untuk "menakat" kelereng tersebut dengan "gacok" yang ada di tangannya.
"Kok aku ndak pernah denger yak" jawabku polos…..
"Jah….Mane ajee Noooo….." Tanyanya kemudian…..
"Syuting selama ni….." Jawabku sambil tersenyum dengan sangat mantap…
Emond Cuma memonyong-monyongkan bibirnya, persis seperti ikan sapu kaca di aquarium itu……
Juga ditanggapi oleh Dorami…
"ada eee Bang….Ulang Kelai, aku juga waktu maen karet pake Ulang Kelai" katanya membela Emond.
"Masalahnya aku ndak pernah dengar tu Ulang Kelai" kataku kemudian "Bahasa Aceh mana tu ?"
"Ndak tau juga, Mungkin bahasa pasaran kek tu" tandas dorami kemudian….
"Berarti aku wajar ndak tau….lantaran memang aku tidak pasaran, the one n only inih, pasti pakek bahasa yang sopan dan teratur ya" kataku sambil memaksakan wajah sepolos mungkin.
"Kok itam jadi bang ???" Kata Dorami gak mau kalah……meruntuhkan egoisme narsis sejatiku….
"karena Hitam itu manis, dan ndak pake bahasa pasaran ‘Ulang Kelai’ " Kataku sambil tetap pede dunk….:D
"Dan yang pasti….aku tidak pendek, tinggi ku 170 cm, catat ya Nak…..banyak-banyak makan kacang panjang ya biar cepat gede…." Kataku memberi petuah yang langsung dibalas dengan delikan mata yang super besar yang pernah kuliat di jagad raya Tuhan ini…..
Dan ternyata, seisi CW pernah mendengar kata-kata ‘Ulang Kelai’ itu. Malahan ada yang mencoba me ncari akar kata dari Ulang Kelai, apakah memang bahasa tersebut asli bahasa aceh, yang merupakan salah satu kekayaan seni budaya bangsa kita, mungkin selanjutnya mereka berniat mematenkan kata-kata tersebut supaya tidak mudah di "sepai" oleh negara tetangga. Sebuah niat yang mulia dari skumpulan remaja yang akan beranjak menjadi lelaki-lelaki setengah baya dalam beberapa tahun kedepan :))
Dan moral dari cerita ini….
"Ulang Kelai" adalah memang benar adanya sebuah struktur kata dari tata bahasa yang umum di pakai, dulu pada jamannya, yang menandakan "mengulang kegiatan yang baru saja dilakukan dengan permintaan" dan pada umunya "Ulang Kelai" ini dipakai oleh anak-anak ketika sedang memainkan permainan yang memakai giliran sebagai metoda permainan, baik antar tim maupun kontra.
Nah permasalah yang paling mendasar adalah, bahwasanya Joen adalah teman kecil, dan sepanjang pengingatanku, tak pernah sekalipun dia mengatakan kalimat "Ulang Kelai" dimasa kecil dahulu. Maka menjadi tidak aneh jika aku tidak mengerti kata-kata tersebut bukan ?
Ditambah lagi, aku juga "fasih" berbahasa nanggroe ini justru di kelas II SMA, dimana aku dan temanku mempergunakan pola "Bilingual" dia berbicara bahasa aceh dan aku menjawabnya dengan bahasa indonesia, hingga akhirnya aku memaksa berbicara, sampai akhirnya aku terbiasa (meskipun hingga sekarang aku tetap "diajak" berbahasa Indonesia ketika aku pulang kampung di Indrapuri sana, semua rumah yang kunaiki, semua saudara yang kujumpai, semuanya mengajak aku berbahasa indonesia, bukan berbahasa aceh, miris sekali mengingat aku sangat ingin berbahasa aceh dengan siapapun di kampung itu). Dan selanjutnya aku menjadi suka berbahasa Aceh, meski tak ubahnya kambing naik diatas batu, bahasaku masih kabur (meski aku dengan sangat emosi menanggapi jika ada orang yang sok paten berkata "Orang aceh kok ndak bisa bahasa aceh"…Hey…Im Tryin Here, Mutha fucka!!!!)
Jadi, kepada rekan yang membaca ini, aku hanya ingin berkata, meski aku tak pernah mendengar kata "Ulang Kelai" dari kecil hingga di tahun ke 24 ini, tapi aku tau bahwa "ulang Kelai" adalah bahasa yang pernah populer dan aku tidak menyangkalnya…..
Hanya saja….
apakah statementku mengenai "Ulang Kelai adalah bahasa yang dimengerti Gay saja ? " adalah benar ?
Mudah-mudahan ada yang bisa memberi jawaban padaku mengenai hal ini….
Dan Selanjutnya…."Edisi Menulis" akan dilanjutkan setelah makan siang….:D
(T, B C)