Episode di 2018

Cerita dari Lantai 3 7 Comments »

Pagi hari…..
kira-kira jam 9….

Aku baru saja melintasi perbatasan kota ini. Aku melihat Gapura yang megah, modern, dan cukup indah. Tertulis ucapan selamat datang dalam 3 bahasa

"Selamat Datang di Kota Jantho"

Selanjutnya aku melihat jajaran pepohonan rimbun yang hijau, dengan jalanan yang sangat mulus. Aku senantiasa menimati pemandangan ini. Tidak pernah terbersit olehku bahwa daerah ini merupakan pegunungan yang tandus dulunya, yang terlihat adalah hamparan pegunungan hijau, dengan barisan pepohonan yang berjajar rapi. Juga jalan raya ini, benar-benar mulus aspalnya, nyaris tanpa tambalan. Maka siapa yang akan menolak perjalanan menyenangkan seperti ini ?

Aku memperlambat mobilku, dan kemudian berhenti sejenak untuk sekedar menikmati alam sekitar. Terdengar cekikikan yang dan suara-suara yang membuatku menoleh….

"Can we Go to the zoo, dad ?" Tanya Gigi, Girly Gitaria Ibanez, gadis kecil berkuncir dua (yang kuharap sudah fasih berbahasa inggris di tahun pertamanya di taman kanak-kanak)

"Na’am…tentu saja beb…apa sih yang ga boleh buat Gigi ?"(dan tentu saja aku berharap aku sudah fasih berbahasa arab saat itu)

Maka selanjutnya terengar pekikan yang nyaring, yang membuatku tersenyum, dan melihat bunda-nya Gigi yang juga tersenyum kearahku.

"Kita jalan lagi, Yah ?" tanyanya sambil tetap memperlihatkan senyum manisnya….

Maka selanjutnya aku kembali mengarahkan mobil ini ke jalan raya, melanjutkan perjalanan, perlahan, sambil berusaha menikmati semua keindahan pemandangan alam, merekamnya di dalam otakku, dan berusaha mengingatnya hingga kami sampai dirumah nanti.

Jejeran toko, menjual pernak-pernik, buah tangan dan kenang-kenangan bagi para pendatang, juga beberapa toserba. Seandainya kita mengunjungi kota ini pada malam hari, maka pemandangan juga tak kalah indah. Kerlap kerlip lampu kota, juga cahaya-cahaya neon box dari jejeran pertokoan menambah semarak kota kecil di daerah tinggi ini. Jantho berkilauan dan juga meneduhkan, seperti batu zamrud, hijau dan cemerlang, tentu memiliki nilai tinggi, tidak hanya untuk dimiliki, dengan memperhatikannya saja, membuat kita tidak berhenti berdecak kagum….

Pusat kota masih setengah jam perjalanan lagi, sementara perutku sedikit bergejolak. Tadi pagi aku lupa sarapan. Mengingat 50 km lebih harus ku tempuh dari Banda Aceh menuju kota ini, ditambah lagi aku terlambat bangun tadi pagi, yang mengakibatkan aku terburu-buru berangkat dan lupa mengisi perut. dan ternyata….

Aku melihat penunjuk jalan dan informasi…

"Rest Area - 100 mtr"

Aku memutuskan akan menyinggahi tempat itu, mungkin aku  bisa beristirahat sejenak disana. Dan…

Ternyata tempat ini sangat luas. Entah berapa hektar, aku tidak bisa menaksirnya dengan pasti. Aku masuki areal tersebut dan mengikuti arah penunjuk jalan. Jalur masuk ini dibuat sangat menarik, dengan dua sisi jalan dihiasi taman bunga, beberapa spot air mancur menambah semarak pemandangan, dan beberapa bangunan  yang terbagi 3 penjuru. Aku melihat akhir sementara jalur ini pada sebuah Pom Bensin. Aku mengarahkan mobilku kesana, kemudian mengisi bensin mobilku. Sembari turun aku mendengar jeritan Gigi yang menginginkan coklat sambil melihat kearah mini market yang ada di Pom Bensin ini. Kulihat tatapan lugunya yang benar-benar lucu.

"Ahh….hari ini kan harinya Gigi….Tidak ada salahnya memperlakukan dia sebagai ratu hari ini " Kataku dalam hati. Dan kemudian kulangkahkan kaki kearah mini market tersebut, membeli sebatang coklat kesukannya, dan kemudian memberikan kepada gadis kecil itu, dan merasa sangat puas ketika dia melompat-lompat kegirangan. Kulihat sang Bunda berusaha menenagkan Gigi, dan menyuruhnya duduk dengan kata-kata yang lembut sekali….
Ahhh….Pandangan yang membahagiakan bukan ???

Selesai mengisi penuh bahan bakar mobil, aku kembali kejalur utama, dan bergegas menuju bangunan tengah di areal Rest Area ini. Terlihat banyak mobil di parkiran, maka aku berinisiatif memutar kendaraan menuju jalur kecil, dan memarkirkan kendaraan disana. Kami turun dan berjalan beberapa meter kearah bangunan utama. Dan disana….

Ada beberapa gerai waralaba makanan cepat saji. Juga ada gerai waralaba kopi (minuman tentu saja….bukan bubuknya), beberapa gerai yang terbagi antara lain butik, Salon dan sebagainya. Aku melangkah ke gerai kopi, memesan kopi hitam kental, dan sementara itu Bunda dan Gigi sudah memilih tempat duduk di suatu sudut terang di bangunan ini. Kemudian, setelah mengambil kopi, bergegas aku menuju Bunda dan Gigi, yang telah siap memesan.

"Loh…kok ayah ditinggalin, kan ayah yang lapeerr ??" tanyaku pada Gigi sambil berpura-pura mengernyitkan kening…

"Kan udah Gigi Pesenin….ayah mam Mie Goreng seafood yang pedesss kaann ?" jawabnya sambil menantapku…

"Ihhhh Kok tau Gigi, Ayah mau mesen itu ???" tanyaku menggodanya….

"Ya tau duuuuunnkk…..GiiiiGiiiii…." jawabnya sambil memonyongkan sedikit bibirnmya….Lucuuu Sekali….

Maka tak salah kan jika kemudian kukecup pipi dan keningnya ??

Selesai makan, dan berbicara dengan Gigi dan Bunda, kami kemudian kembali ke mobil dan berniat melanjuutkan perjalanan. Sambil melangkah, aku mengedarkan pandangan ke berbagai arah. Ada dua sudut bangunan lagi yang membangun areal ini seperti segitiga. Di papan informasi aku melihat denah areal ini, ada beberapa tempat penginapan, areal bermain anak, dan berbagai macam fasilitas pendukung.
Benar-benar tempat istirahat yang nyaman menurutku….

Kami mengikuti jalur keluar, melihat beberapa keluarga yang sedang piknik di gazebo-gazebo yang ada di taman. Hari ini hari minggu, maka tentu saja pandangan seperti ini akan terlihat di berbagai sudut di areal ini. Alternatif liburan yang mengasyikkan tentunya….

Aku tetap mengendarai mobil ini dengan perlahan, meikmati pemandangan, dan juga berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan Gigi tentang apa-apa yang dilihatnya. Begitu juga Bunda-nya, terlihat sibuk menjelaskan kepada Gigi…

Selanjutnya….

Zoo…yapp…Kebun Binatang….

Ini adalah lokasi yang menjadi impian Gigi….ini kali pertama ia pergi kesini. telah banyak cerita yang ia dengar, dan banyak kisah yang membuatnya senantiasa merengek minta diajak ke tempat ini. Dan di Hari Ulang tahunnya ini, impiannya terkabul, ia mengunjungi kebun binatang. Dia terlihat amat tertarik, wajahnya terlihat sangat gembira….

Kebun binatang ini sangat luas. ada banyak satwa yang dipelihara disini. Namun, semuanya bebas, tidak terikat dan terpasung di dalam kandang. aku menghampiri loket, membayar sejumlah uang, mengambil karcis dan bergerak kembali dengan Mobil ini memasuki area kebun binatang….

Yap…seperti Taman Safari Indonesia…Kebun Binatang Jantho ini juga menganut falsafah Drive In……

Maka perjalanan selanjutnya adalah dipenuhi dengan celoteh-celoteh Gigi. Gajah, Jerapah, Badak, Harimau, Singa dan berbagai macam binatang lain terlihat disana. Aku  sudah mengamankan pintu samping, sehingga hanya bisa dibuka dari luar, menjaga kalau-kalau Gigi tiba-tiba menarik handle pintu dan melompat keluar. Tentu saja itu sangat berbahaya…..

Dan Kebun Binatang ini sangat menakjubkan bagi Gigi, terlihat dari banyaknya celoteh yang keluar dari mulut kecilnya. ada saja yang ditanyakannya, ada banyak komentar darinya. Hingga setengah jam berputar-putar tak terasa begitu singkat. Kami sudah sampai di pintu keluar areal kebun binatang. Terlihat segurat kekecawaan Gigi, tapi oleh Bunda diyakinkan bahwa ini bukanlah kunjungannya yhang terakhir. Maka sejurus kemudian dia terlihat ceria kembali dan terlihat melambaikan tangan kecilnya…..

"Dadah…Gajah…Dadaaah Jerapah….Kapan-kapan Gigi kemari Lagi yaaaa….." ujarnya.

Jam menunjukkan waktu makan siang….

Setelah singgah sebentar di Masjid untuk shalat, maka kemudian kami berputar mencari tempat untuk makan siang….

Pilihanku jatuh pada sebuah restoran….

Dengan suasana yang sangat alami, pondok-pondok diatas air, dengan menu utama berupa ikan-ikan kolam air tawar yang bisa di pancing sendiri, maka selanjutnya acara makan siang juga menjadi hiburan tersendiri…Bagiku, Bunda dan Gigi…..

Dan kemudian setelah makan, kami berputar-puter, berekreasi, piknik dihamparan rumput hijau, menikmati Kota Jantho yang tertata rapi, unik dan asri ini…..

Hari menjelang maghrib, ketika aku mengemudikan kendaraan ku bergerak menjauhi Kota Jantho yang kecil namun eksotik ini. Terlihat lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu, begitu pula di areal pertokoan. Aku pun bergerak menjauhi pusat kota Jantho, singgah sebentar di sebuah mushalla disaat adzan maghrib dan kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Banda Aceh yang harus ditempuh 1 jam perjalanan tersebut….

Gigi sudah tertidur, keletihan bermain, dan sepertinya benar-benar menikmati rekreasi ini. Bundanya juga terlihat letih, namun tetap tersenyum manis dan menemaniku dengan melontarkan obrolan-obrolan ringan sepanjang perjalan pulang ini….

Hingga akhirnya aku sampai dirumah….

Satu jam kemudian aku sudah bersiap untuk tidur, dan melihat agenda digital yang kumiliki. dan melihat catatan didalamnya….

"Senin, 7 Agustus 2018 - Janji dengan Joen!!! Jam 08.00 Pagi"

Aku kemudian merebahkan diri, melihat Bundanya Gigi yang sudah tertidur dengan nafas yang teratur….

Dan beberapa menit kemudian….

Aku pun tertidur dengan sangat lelapnya…..

(Sebuah "fantasi Imajiner" dalam Do’a dan Harapan yang besar,……berdasarkan perjalanan ke Kota Jantho yang gersang, tandus dan kering, bersama Ayah tadi pagi, Harapan memiliki keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah, Tugas Akhirnya Vida "Saree Rest Area", dan juga beberapa asa tentang Kota Jantho yang tetap tak terurus sampai kini di tahun 2008….)

…Write The Name, And shall be Die….

Cerita dari Lantai 3 No Comments »

Lam lekom….

Sebenernya, aku juga penganut setia prinsip "tidak ada kebetulan dalam dunia ini, hanya ada kausalitas"

Akan tetapi, agak sedikit menggelitik, ketika malam ini aku menjumpai 2 "thriller" yang secara alamiah jika dikatakan oleh penghuni Lantai 3 sebagai sebuah "kebetulan"…..

First….
Aku menonton sebuah film yang merupakan hasil rekomendasi dari Fahmi. Adalah dia yang mengatakan "Kaw harus nonton film ne, bagus jalan ceritanya…". Adapun film ini juga dengan terpaksa kuambil lantaran film yang kucari2 tidak ada di katalog dari A hingga Z…..

Sebuah Film Jepang……( agak sedikit "melenceng" mengingat aku tidak hobi menonton pilm yang diperani aktor2 "bermata sipit" except Stephen Chow, Jet Li dan Jacky Chan….itupun dengan pertimbangan tertentu terhadap ketiga aktor tersebut, yang tidak mungkin kujelaskan panjang lebar disini)

Judulnya "DeathNote"….

Film ini bercerita tentang Light, lelaki cerdas dengan intuisi dan insting serta pemikiran yang detail dan ingin menegakkan kebenaran, terinspirasi dari sang ayah, ingin menjadi Polisi, yang menemukan sebuah buku catatan yang berjudul "Death Note". Buku ini bukan buku biasa, dimana buku ini menyebabkan kematian bagi nama-nama yang dituliskan didalamnya. Kematian bisa berupa peristiwa yang dijabarkan  secara terperinci dan mendalam lewat tulisan, atau cukup kematian dengan serangan jantung biasa, hanya cukup  dengan menuliskan nama  lengkap korban. Adapun Light bertindak laksana malaikat maut, dengan mengeksekusi semua penjahat dan tokoh kriminal di seluruh dunia. Meskipun tampak benar, namun hal ini juga sebenarnya tak pantas dilakukan. Sejenak Light menjadi idola masyarakat, yang menyebutnya dengan sebutan KIRA, tingkat kriminalitas menurun, dan tentu saja membuat semua orang merasa nyaman. Light disertai oleh Ryuk, sang Dewa atau mungkin Setan Kematian, yang hanya bisa dilihat apabila mereka menyentuh bagian dari Death Note tersebut.

Lanjutt…..Light mulai mengandalkan instingnya, bereksperimen, tatkala ia mulai membuat gerah beberapa aparat kepolisian dengan tingkahnya yang brutal. membunuh tanpa pengadilan, atau mungkin tidak menerima alasan apapun untuk kejahatan. Kejahatan imbalannya adalah Mati. begitu menurut Light. ia semakin posses dengan Death Note.

Adalah L, subjek tak berwujud, yang hanya bisa dilihat dari sebuah inisial, yang berkomunikasi lewat komputer jinjing dengan suara yang sudah diacak sedemikian rupa sehingga sulit diterka, dan memiliki asisten kasat mata bernama Watari. L berambisi mengungkap siapa KIRA, dan mengajukannya ke pengadilan, dan mengembalikan supremasi hukum kepada mereka aparat penegak hukum.

Maka selanjutnya dapat ditebak, saling memburu antara KIRA dan L. Melibatkan semua jajaran kepolisian setempat, FBI juga, dan semua analisis, retorika, kemungkinan-kemungkinan, dari kedua belah pihak. Ajang adu analisis, yang menghantarkan cerita pada puncaknya. Ketika L berhasil merumuskan analisis bahwasanya KIRA hanya bisa membunuh jika mengenali korbannya, mengetahui namanya, dan beraksi dengan skema dan dengan emosi yang labil. L merasa KIRA adalah siluet dirinya.

KIRA tak mati kutu, semua investigator terhadap dirinya mulai kehilangan nyawa. Hingga akhirnya bersisa 6 penegak hukum saja yang masih bersedia mengusut kasusnya hingga tuntas, selebihnya mundur teratur….

L berhasil merumuskan 2 kemungkinan tersangka terakhir, salah satunya adalah anak sang pemimpin Operasi, Petugas Polisi, yang tak lain adalah Ayahnya Light. maka selanjutnya Sang Polisi harus bersedia mematamatai anaknya sendiri, dengan pertimbangan siapapun orangnya maka ia harus ditangkap, tak perduli dia siapa, meskipun adalah darah dagingnya sendiri….

Light yang juga adalah KIRA mengetahui bahwa ia telah dimata-matai, dan dengan cara yang cantik, ia berhasil mengelabui semua mata, monitor, persepsi, pengandaian, kesimpulan yang dibuat L. Dengan insting yang sangat hebat, ia berhasil meyakinkan semua orang, bahwa ia bukanlah KIRA. hal ini membuat semua tuduhan lepas, dan ia melenggang di depan hidung L dengan mudah.

Yang paling dramatis adalah…..
Ketika salah satu tunangan korban KIRA, yang mengusut secara "solo" dan juga berhasil menemui Light dengan sangkaan sebagai KIRA. L yang masih curiga menerima kerjasama "solo investigator" tersebut untuk merancang sebuah upaya penjebakan dengan melibatkan kekasih Light.

Penjebakan berhasil, Light masuk perangkap, hanya saja tidak ada bukti yang menyatakan Light adalah KIRA. Kekasih Light yang disekap berhasil meloloskan diri, namun tewas dipangkuan Light akibat terjangan peluru dari pistol sang investigator yang kemudian bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Light terlihat tersedu kehilangan kekasih, dan L menyerah dengan ketiadaan bukti.

Puncak film ini justru di ending ceritanya, ketika Ryuk berkata….

"Light, kau bahkan lebih lebih kejam daripada dewa kematian itu sendiri…."

Ryuk berkata bukan tanpa sebab……

Adalah kematian sang kekasih yang mencintainya dengan sangat,dan investigator tersebut adalah sebuah perencanaan yang sangat terperinci, yang bahkan tidak memiliki celah untuk membongkar Misteri KIRA,dan menjauhkan Light dari tuduhan sekaligus memenangkan posisi Light untuk memburu L dengan memanfaatkan kesedihan kehilangan kekasih, lewat sebuah horor catatan kematian yang sempurna oleh Light dalam catatan yang berjudul "Death Note"….

Sebuah epilog kemenangan gelap yang sadis melawan cahaya……

Tak lama berselang setelah menonton, sambil merasa puas mendapatkan tontonan yang seru tersebut, aku berselancar kembali di alam maya. Disebuah forum berbahasa asing, aku membaca sebuah tulisan curahan hati…..tertulis dan diterjemahkan secara bebas olehku, seperti ini….:

"Aku ini manusia seperti apa ?
aku mencintai seorang gadis dengan sangat tulus. Aku mencintainya dengan segenap cinta yang aku punya. Yang kami lakukan adalah mengisi hari-hari dengan cinta yang kami miliki. Meskipun kami tidak tahu akan kemana, kami menikmati hari-hari kami dengan keoptimisan. Namun kami tidak pernah sadar,kami, Aku, dibutakan oleh cinta, hingga akhirnya melewati semua batas norma yang pernah ada. Yang kami lakukan adalah satu kesalahan, yang kemudian berulang-ulang hingga kami tercekat pada satu keadaan. Kekasihku mengandung. Aku memiliki anak diluar nikah. Adalah sulit menerima keadaan ini dengan suatu hubungan yang masih belum jelas arahnya. Namun sebagai lelaki bertanggung jawab, aku akan menghadapi keadaan ini. Namun tidak dengan kekasihku, ia belum sanggup menghadapinya. Berkali-kali kami bicara, yang tetap saja menyimpulkan sebuah jawaban, bayi itu tidak boleh lahir kedunia, tidak ada yang boleh mengetahui dia ada. Maka selanjutnya aku melakukan apa-apa yang layak disebut tidak manusiawi. Tidak hanya membiarkan kekasihku berusaha menggugurkan kandungannya, namun ikut berperan dalam proses pembunuhan anak kami sendiri. Ada pergolakan didalam batinku, tidak ingin melakukannya, namun aku juga tidak ingin menyakiti kekasihku dengan memaksakan pendapatku tanpa memperhatikan keadaan dirinya. Namun bayi kami sangat kuat, ia bertahan terhadap gempuran orang tuanya sendiri yang tidak menginginkan dia ada, justru disaat dia belum merasakan apa yang disebut "lahir kedunia". Selanjutnya kami menjadi putus asa, dan mulai pesimis dengan hidup. Tidak ada lagi berbicara cinta, hanya ketakutan, paranoid, kecurigaan, saling menyalahkan, maka dimana letak terhormatnya kami sebagai manusia jika dibandingkan dengan insting kehidupan rimbanya binatang ?. Aku berencana membunuh bayiku sendiri, meskipun aku senantiasa berharap bayi itu lahir, tapi aku justru melakukan tindakan-tindakan yang mengharapkan hal sebaliknya. Disaat pengaharapan, serta hubungan yang semakin runcing, tepat di bulan ke 5, bayi kami harus lahir kedunia, dengan semua kegagalan fungsi tubuh, dia hanya bertahan beberapa saat saja, sebelum menemui ajalnya. Aku menangis sekeras-kerasnya ketika mengetahui hal itu, dan menyalahkan semuanya kepada Tuhan. Padahal, aku adalah sang eksekutor, berusaha mendahului-Nya dengan mencatatkan kematian bayiku sendiri di tangan ini. Waktu berlalu dengan sangat lambat, dari detik-detik horor tersebut, hingga saat ini aku masih bertanya "Manusia Seperti apakah aku ini ?". Aku berharap semua ini adalah mimpi buruk, dan terbangun disaat aku menyadari bayiku dinyatakan ada di kandungan kekasihku dan berjuang mempertahankannya dengan nyawaku sendiri."

Sebagai "baby lovers" yang punya 10 berandal cilik, aku trenyuh membacanya, mengingat tampang-tampang tak berdosa yang selalu menemani saat-saat terburukku menghadapi aktivitas harian, membuatku sedikit mengutuk. Namun yang lebih membuatku tercekat adalah…"Mencatatkan dan merencanakan kematian". apakah memang benar adanya manusia mampu berpikir seperti itu ? Apakah Tuhan memberikan kesempatan kita melakukan hal sekeji itu ? Apakah memang Lauhul Mahfud mencatatkan detail kematian lewat goresan anak adam ? Apakah Habil mencatatkan instruksi kepada Izrail untuk menolongnya menghabisi Qabil, bukannya Tuhan sang empunya jiwa yang menarik keluar nyawanya lewat perantaraan sang malaikat maut ?

Naudzubillahi Mindzaalik……
Aku mengakhiri pertanyaan2 gila tersebut dengan berwudhu, shalat, dan berdoa….

"Rabbana, hablana, min azwajina qurrataa ‘a’yuuni waj’alna lil muttaqima imama….Allahuma inna nas’aluka salamatan fid diin, wa’afiatan fil jasaadin, wa syiadatan fil ‘ilmi, wabarakatan fir rizqi, wa taubatan qablal maut, warahmatan ‘indal maut, wamaghfiratan ba’dal mautt….."


Theme & Icons by N.Design Studio.
Entries RSS Comments RSS Log in