…Write The Name, And shall be Die….
Cerita dari Lantai 3 August 3rd, 2008Lam lekom….
Sebenernya, aku juga penganut setia prinsip "tidak ada kebetulan dalam dunia ini, hanya ada kausalitas"
Akan tetapi, agak sedikit menggelitik, ketika malam ini aku menjumpai 2 "thriller" yang secara alamiah jika dikatakan oleh penghuni Lantai 3 sebagai sebuah "kebetulan"…..
First….
Aku menonton sebuah film yang merupakan hasil rekomendasi dari Fahmi. Adalah dia yang mengatakan "Kaw harus nonton film ne, bagus jalan ceritanya…". Adapun film ini juga dengan terpaksa kuambil lantaran film yang kucari2 tidak ada di katalog dari A hingga Z…..
Sebuah Film Jepang……( agak sedikit "melenceng" mengingat aku tidak hobi menonton pilm yang diperani aktor2 "bermata sipit" except Stephen Chow, Jet Li dan Jacky Chan….itupun dengan pertimbangan tertentu terhadap ketiga aktor tersebut, yang tidak mungkin kujelaskan panjang lebar disini)
Judulnya "DeathNote"….
Film ini bercerita tentang Light, lelaki cerdas dengan intuisi dan insting serta pemikiran yang detail dan ingin menegakkan kebenaran, terinspirasi dari sang ayah, ingin menjadi Polisi, yang menemukan sebuah buku catatan yang berjudul "Death Note". Buku ini bukan buku biasa, dimana buku ini menyebabkan kematian bagi nama-nama yang dituliskan didalamnya. Kematian bisa berupa peristiwa yang dijabarkan secara terperinci dan mendalam lewat tulisan, atau cukup kematian dengan serangan jantung biasa, hanya cukup dengan menuliskan nama lengkap korban. Adapun Light bertindak laksana malaikat maut, dengan mengeksekusi semua penjahat dan tokoh kriminal di seluruh dunia. Meskipun tampak benar, namun hal ini juga sebenarnya tak pantas dilakukan. Sejenak Light menjadi idola masyarakat, yang menyebutnya dengan sebutan KIRA, tingkat kriminalitas menurun, dan tentu saja membuat semua orang merasa nyaman. Light disertai oleh Ryuk, sang Dewa atau mungkin Setan Kematian, yang hanya bisa dilihat apabila mereka menyentuh bagian dari Death Note tersebut.
Lanjutt…..Light mulai mengandalkan instingnya, bereksperimen, tatkala ia mulai membuat gerah beberapa aparat kepolisian dengan tingkahnya yang brutal. membunuh tanpa pengadilan, atau mungkin tidak menerima alasan apapun untuk kejahatan. Kejahatan imbalannya adalah Mati. begitu menurut Light. ia semakin posses dengan Death Note.
Adalah L, subjek tak berwujud, yang hanya bisa dilihat dari sebuah inisial, yang berkomunikasi lewat komputer jinjing dengan suara yang sudah diacak sedemikian rupa sehingga sulit diterka, dan memiliki asisten kasat mata bernama Watari. L berambisi mengungkap siapa KIRA, dan mengajukannya ke pengadilan, dan mengembalikan supremasi hukum kepada mereka aparat penegak hukum.
Maka selanjutnya dapat ditebak, saling memburu antara KIRA dan L. Melibatkan semua jajaran kepolisian setempat, FBI juga, dan semua analisis, retorika, kemungkinan-kemungkinan, dari kedua belah pihak. Ajang adu analisis, yang menghantarkan cerita pada puncaknya. Ketika L berhasil merumuskan analisis bahwasanya KIRA hanya bisa membunuh jika mengenali korbannya, mengetahui namanya, dan beraksi dengan skema dan dengan emosi yang labil. L merasa KIRA adalah siluet dirinya.
KIRA tak mati kutu, semua investigator terhadap dirinya mulai kehilangan nyawa. Hingga akhirnya bersisa 6 penegak hukum saja yang masih bersedia mengusut kasusnya hingga tuntas, selebihnya mundur teratur….
L berhasil merumuskan 2 kemungkinan tersangka terakhir, salah satunya adalah anak sang pemimpin Operasi, Petugas Polisi, yang tak lain adalah Ayahnya Light. maka selanjutnya Sang Polisi harus bersedia mematamatai anaknya sendiri, dengan pertimbangan siapapun orangnya maka ia harus ditangkap, tak perduli dia siapa, meskipun adalah darah dagingnya sendiri….
Light yang juga adalah KIRA mengetahui bahwa ia telah dimata-matai, dan dengan cara yang cantik, ia berhasil mengelabui semua mata, monitor, persepsi, pengandaian, kesimpulan yang dibuat L. Dengan insting yang sangat hebat, ia berhasil meyakinkan semua orang, bahwa ia bukanlah KIRA. hal ini membuat semua tuduhan lepas, dan ia melenggang di depan hidung L dengan mudah.
Yang paling dramatis adalah…..
Ketika salah satu tunangan korban KIRA, yang mengusut secara "solo" dan juga berhasil menemui Light dengan sangkaan sebagai KIRA. L yang masih curiga menerima kerjasama "solo investigator" tersebut untuk merancang sebuah upaya penjebakan dengan melibatkan kekasih Light.
Penjebakan berhasil, Light masuk perangkap, hanya saja tidak ada bukti yang menyatakan Light adalah KIRA. Kekasih Light yang disekap berhasil meloloskan diri, namun tewas dipangkuan Light akibat terjangan peluru dari pistol sang investigator yang kemudian bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Light terlihat tersedu kehilangan kekasih, dan L menyerah dengan ketiadaan bukti.
Puncak film ini justru di ending ceritanya, ketika Ryuk berkata….
"Light, kau bahkan lebih lebih kejam daripada dewa kematian itu sendiri…."
Ryuk berkata bukan tanpa sebab……
Adalah kematian sang kekasih yang mencintainya dengan sangat,dan investigator tersebut adalah sebuah perencanaan yang sangat terperinci, yang bahkan tidak memiliki celah untuk membongkar Misteri KIRA,dan menjauhkan Light dari tuduhan sekaligus memenangkan posisi Light untuk memburu L dengan memanfaatkan kesedihan kehilangan kekasih, lewat sebuah horor catatan kematian yang sempurna oleh Light dalam catatan yang berjudul "Death Note"….
Sebuah epilog kemenangan gelap yang sadis melawan cahaya……
Tak lama berselang setelah menonton, sambil merasa puas mendapatkan tontonan yang seru tersebut, aku berselancar kembali di alam maya. Disebuah forum berbahasa asing, aku membaca sebuah tulisan curahan hati…..tertulis dan diterjemahkan secara bebas olehku, seperti ini….:
"Aku ini manusia seperti apa ?
aku mencintai seorang gadis dengan sangat tulus. Aku mencintainya dengan segenap cinta yang aku punya. Yang kami lakukan adalah mengisi hari-hari dengan cinta yang kami miliki. Meskipun kami tidak tahu akan kemana, kami menikmati hari-hari kami dengan keoptimisan. Namun kami tidak pernah sadar,kami, Aku, dibutakan oleh cinta, hingga akhirnya melewati semua batas norma yang pernah ada. Yang kami lakukan adalah satu kesalahan, yang kemudian berulang-ulang hingga kami tercekat pada satu keadaan. Kekasihku mengandung. Aku memiliki anak diluar nikah. Adalah sulit menerima keadaan ini dengan suatu hubungan yang masih belum jelas arahnya. Namun sebagai lelaki bertanggung jawab, aku akan menghadapi keadaan ini. Namun tidak dengan kekasihku, ia belum sanggup menghadapinya. Berkali-kali kami bicara, yang tetap saja menyimpulkan sebuah jawaban, bayi itu tidak boleh lahir kedunia, tidak ada yang boleh mengetahui dia ada. Maka selanjutnya aku melakukan apa-apa yang layak disebut tidak manusiawi. Tidak hanya membiarkan kekasihku berusaha menggugurkan kandungannya, namun ikut berperan dalam proses pembunuhan anak kami sendiri. Ada pergolakan didalam batinku, tidak ingin melakukannya, namun aku juga tidak ingin menyakiti kekasihku dengan memaksakan pendapatku tanpa memperhatikan keadaan dirinya. Namun bayi kami sangat kuat, ia bertahan terhadap gempuran orang tuanya sendiri yang tidak menginginkan dia ada, justru disaat dia belum merasakan apa yang disebut "lahir kedunia". Selanjutnya kami menjadi putus asa, dan mulai pesimis dengan hidup. Tidak ada lagi berbicara cinta, hanya ketakutan, paranoid, kecurigaan, saling menyalahkan, maka dimana letak terhormatnya kami sebagai manusia jika dibandingkan dengan insting kehidupan rimbanya binatang ?. Aku berencana membunuh bayiku sendiri, meskipun aku senantiasa berharap bayi itu lahir, tapi aku justru melakukan tindakan-tindakan yang mengharapkan hal sebaliknya. Disaat pengaharapan, serta hubungan yang semakin runcing, tepat di bulan ke 5, bayi kami harus lahir kedunia, dengan semua kegagalan fungsi tubuh, dia hanya bertahan beberapa saat saja, sebelum menemui ajalnya. Aku menangis sekeras-kerasnya ketika mengetahui hal itu, dan menyalahkan semuanya kepada Tuhan. Padahal, aku adalah sang eksekutor, berusaha mendahului-Nya dengan mencatatkan kematian bayiku sendiri di tangan ini. Waktu berlalu dengan sangat lambat, dari detik-detik horor tersebut, hingga saat ini aku masih bertanya "Manusia Seperti apakah aku ini ?". Aku berharap semua ini adalah mimpi buruk, dan terbangun disaat aku menyadari bayiku dinyatakan ada di kandungan kekasihku dan berjuang mempertahankannya dengan nyawaku sendiri."
Sebagai "baby lovers" yang punya 10 berandal cilik, aku trenyuh membacanya, mengingat tampang-tampang tak berdosa yang selalu menemani saat-saat terburukku menghadapi aktivitas harian, membuatku sedikit mengutuk. Namun yang lebih membuatku tercekat adalah…"Mencatatkan dan merencanakan kematian". apakah memang benar adanya manusia mampu berpikir seperti itu ? Apakah Tuhan memberikan kesempatan kita melakukan hal sekeji itu ? Apakah memang Lauhul Mahfud mencatatkan detail kematian lewat goresan anak adam ? Apakah Habil mencatatkan instruksi kepada Izrail untuk menolongnya menghabisi Qabil, bukannya Tuhan sang empunya jiwa yang menarik keluar nyawanya lewat perantaraan sang malaikat maut ?
Naudzubillahi Mindzaalik……
Aku mengakhiri pertanyaan2 gila tersebut dengan berwudhu, shalat, dan berdoa….
"Rabbana, hablana, min azwajina qurrataa ‘a’yuuni waj’alna lil muttaqima imama….Allahuma inna nas’aluka salamatan fid diin, wa’afiatan fil jasaadin, wa syiadatan fil ‘ilmi, wabarakatan fir rizqi, wa taubatan qablal maut, warahmatan ‘indal maut, wamaghfiratan ba’dal mautt….."